Anakku,
Saat kamu meninggalkan rumah, maka berniatlah untuk menuju ridho Allah (swt). Yang demikian adalah karena tujuan selain itu akan berarti menuju kepada murka Allah (swt).
Saat kamu menuju ke rumah orangtua, maka berniatlah untuk mendapatkan ridho Allah (swt). Yang demikian adalah karena ridho Allah (swt) bergantung kepada ridho kedua orangtua kita.
Saat kamu menjenguk orangtua, maka berusahalah untuk mendapat keberkahan mereka. Yang demikian adalah karena se-jelek2 orangtuamu, mereka telah menjadi asbab bagi Allah (swt) untuk menghadirkanmu di dunia. Apalagi kalau kamu tahu bahwa orangtuamu termasuk orang2 yang baik iman dan amalnya.
Saat kamu berada dekat dengan orangtua, maka jangan lupakan kesempatan untuk memandang mereka dengan kasih sayang, bahkan meskipun mereka belum menunaikan kewajiban2 mereka yang menjadi hak2-mu. Yang demikian adalah karena pandangan seperti itu tidak saja dapat menumbuhkan rasa hormat kamu kepada mereka, akan tetapi Allah (swt) juga akan mengganjari setiap pandanganmu dengan ganjaran yang hanya layak diberikan kepada orang2 yang diterima haji dan umrahnya.
Saat kamu meminta kepada mereka sesuatu yang tidak dapat diberikan kecuali oleh mereka, maka jadikanlah itu se-olah2 permintaanmu kepada Allah (swt). Yang demikian adalah karena hanya Allah (swt) yang dapat memenuhi hajat2-mu dengan sempurna. Namun demikian, jangan se-kali2 kamu meminta kepada Allah (swt) kecuali dengan yakin yang sempurna, bahwa Dia akan mengabulkan permintaanmu. Yang demikian adalah karena Allah (swt) sesuai dengan sangkaan hamba2-Nya.
Sungguh, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah. Subhanallah.
Senin, 11 Februari 2008
Rahasia Gerakan Sholat
Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat.
Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, "Sahabatku, engkau tadi belum shalat!" Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW.
Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum melihat "gaya" shalat seperti itu.
Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, "Sahabatku, tolong ulangi lagi shalatmu! Engkau tadi belum shalat."
Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama.
Namun seperti "biasanya", Rasulullah SAW menyuruh orang itu mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi.
Karena itu, ajarilah aku!" "Sahabatku," kata Rasulullah SAW dengan tersenyum, "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah.
Lalu, rukuklah dengan tenang (thumaninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu."
Kisah dari Mahmud bin Rabi Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya ini memberikan gambaran bahwa shalat tidak cukup sekadar "benar" gerakannya saja, tapi juga harus dilakukan dengan tumaninah, tenang, dan khusyuk.
Kekhusukan ruhani akan sulit tercapai, bila fisiknya tidak khusyuk. Dalam arti dilakukan dengan cepat dan terburu-buru. Sebab, dengan terlalu cepat, seseorang akan sulit menghayati setiap bacaan, tata gerak tubuh menjadi tidak sempurna, dan jalinan komunikasi dengan Allah menjadi kurang optimal.
Bila hal ini dilakukan terus menerus, maka fungsi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar akan kehilangan makna. Karena itu, sangat beralasan bila Rasulullah SAW mengganggap "tidak shalat" orang yang melakukan shalat dengan cepat (tidak tumaninah).
Hikmah gerakan shalat
Sebelum menyentuh makna bacaan shalat yang luar biasa, termasuk juga aspek "olah rohani" yang dapat melahirkan ketenangan jiwa, atau "jalinan komunikasi" antara hamba dengan Tuhannya, secara fisik shalat pun mengandung banyak keajaiban.
Setiap gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW sarat akan hikmah dan bermanfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerak tersebut dilakukan dengan benar, tumaninah serta istikamah (konsisten dilakukan).
Dalam buku Mukjizat Gerakan Shalat, Madyo Wratsongko MBA. mengungkapkan bahwa gerakan shalat dapat melenturkan urat syaraf dan mengaktifkan sistem keringat dan sistem pemanas tubuh.
Selain itu juga membuka pintu oksigen ke otak, mengeluarkan muatan listrik negatif dari tubuh, membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkan tekanan tinggi, serta membuka pembuluh darah di bagian dalam tubuh (arteri jantung).
Kita dapat menganalisis kebenaran sabda Rasulullah SAW dalam kisah di awal. "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah." Saat takbir Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sejajar dengan bahu-bahunya (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar).
Takbir ini dilakukan ketika hendak rukuk, dan ketika bangkit dari rukuk. Beliau pun mengangkat kedua tangannya ketika sujud.
Apa maknanya? Pada saat kita mengangkat tangan sejajar bahu, maka otomatis kita membuka dada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirkan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga.
"Rukuklah dengan tenang (tumaninah)." Ketika rukuk, Rasulullah SAW meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut (HR Bukhari dari Saad bin Abi Waqqash).
Apa maknanya? Rukuk yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai syaraf sentral manusia) beserta aliran darahnya.
Rukuk pun dapat memelihara kelenturan tuas sistem keringat yang terdapat di pungggung, pinggang, paha dan betis belakang. Demikian pula tulang leher, tengkuk dan saluran syaraf memori dapat terjaga kelenturannya dengan rukuk. Kelenturan syaraf memori dapat dijaga dengan mengangkat kepala secara maksimal dengan mata mengharap ke tempat sujud.
"Lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak." Apa maknanya? Saat berdiri dari dengan mengangkat tangan, darah dari kepala akan turun ke bawah, sehingga bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Hal ini dapat menjaga syaraf keseimbangan tubuh dan berguna mencegah pingsan secara tiba-tiba.
"Selepas itu, sujudlah dengan tenang." Apa maknanya? Bila dilakukan dengan benar dan lama, sujud dapat memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk pula ke mata, telinga, leher, dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan pembuluh darah di jantung, sehingga resiko terkena jantung koroner dapat diminimalisasi.
"Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang." Apa maknanya? Cara duduk di antara dua sujud dapat menyeimbangkan sistem elektrik serta syaraf keseimbangan tubuh kita. Selain dapat menjaga kelenturan syaraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai jari-jari kaki.
Subhanallah!Masih ada gerakan-gerakan shalat lainnya yang pasti memiliki segudang keutamaan, termasuk keutamaan wudhu. Semua ini memperlihatkan bahwa shalat adalah anugerah terindah dari Allah bagi hamba beriman. Wallaahu alam.
Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, "Sahabatku, engkau tadi belum shalat!" Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW.
Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum melihat "gaya" shalat seperti itu.
Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, "Sahabatku, tolong ulangi lagi shalatmu! Engkau tadi belum shalat."
Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama.
Namun seperti "biasanya", Rasulullah SAW menyuruh orang itu mengulangi shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi.
Karena itu, ajarilah aku!" "Sahabatku," kata Rasulullah SAW dengan tersenyum, "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah.
Lalu, rukuklah dengan tenang (thumaninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak. Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu."
Kisah dari Mahmud bin Rabi Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya ini memberikan gambaran bahwa shalat tidak cukup sekadar "benar" gerakannya saja, tapi juga harus dilakukan dengan tumaninah, tenang, dan khusyuk.
Kekhusukan ruhani akan sulit tercapai, bila fisiknya tidak khusyuk. Dalam arti dilakukan dengan cepat dan terburu-buru. Sebab, dengan terlalu cepat, seseorang akan sulit menghayati setiap bacaan, tata gerak tubuh menjadi tidak sempurna, dan jalinan komunikasi dengan Allah menjadi kurang optimal.
Bila hal ini dilakukan terus menerus, maka fungsi shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar akan kehilangan makna. Karena itu, sangat beralasan bila Rasulullah SAW mengganggap "tidak shalat" orang yang melakukan shalat dengan cepat (tidak tumaninah).
Hikmah gerakan shalat
Sebelum menyentuh makna bacaan shalat yang luar biasa, termasuk juga aspek "olah rohani" yang dapat melahirkan ketenangan jiwa, atau "jalinan komunikasi" antara hamba dengan Tuhannya, secara fisik shalat pun mengandung banyak keajaiban.
Setiap gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW sarat akan hikmah dan bermanfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerak tersebut dilakukan dengan benar, tumaninah serta istikamah (konsisten dilakukan).
Dalam buku Mukjizat Gerakan Shalat, Madyo Wratsongko MBA. mengungkapkan bahwa gerakan shalat dapat melenturkan urat syaraf dan mengaktifkan sistem keringat dan sistem pemanas tubuh.
Selain itu juga membuka pintu oksigen ke otak, mengeluarkan muatan listrik negatif dari tubuh, membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkan tekanan tinggi, serta membuka pembuluh darah di bagian dalam tubuh (arteri jantung).
Kita dapat menganalisis kebenaran sabda Rasulullah SAW dalam kisah di awal. "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah." Saat takbir Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sejajar dengan bahu-bahunya (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar).
Takbir ini dilakukan ketika hendak rukuk, dan ketika bangkit dari rukuk. Beliau pun mengangkat kedua tangannya ketika sujud.
Apa maknanya? Pada saat kita mengangkat tangan sejajar bahu, maka otomatis kita membuka dada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirkan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga.
"Rukuklah dengan tenang (tumaninah)." Ketika rukuk, Rasulullah SAW meletakkan kedua telapak tangan di atas lutut (HR Bukhari dari Saad bin Abi Waqqash).
Apa maknanya? Rukuk yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai syaraf sentral manusia) beserta aliran darahnya.
Rukuk pun dapat memelihara kelenturan tuas sistem keringat yang terdapat di pungggung, pinggang, paha dan betis belakang. Demikian pula tulang leher, tengkuk dan saluran syaraf memori dapat terjaga kelenturannya dengan rukuk. Kelenturan syaraf memori dapat dijaga dengan mengangkat kepala secara maksimal dengan mata mengharap ke tempat sujud.
"Lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak." Apa maknanya? Saat berdiri dari dengan mengangkat tangan, darah dari kepala akan turun ke bawah, sehingga bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Hal ini dapat menjaga syaraf keseimbangan tubuh dan berguna mencegah pingsan secara tiba-tiba.
"Selepas itu, sujudlah dengan tenang." Apa maknanya? Bila dilakukan dengan benar dan lama, sujud dapat memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk pula ke mata, telinga, leher, dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan pembuluh darah di jantung, sehingga resiko terkena jantung koroner dapat diminimalisasi.
"Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang." Apa maknanya? Cara duduk di antara dua sujud dapat menyeimbangkan sistem elektrik serta syaraf keseimbangan tubuh kita. Selain dapat menjaga kelenturan syaraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai jari-jari kaki.
Subhanallah!Masih ada gerakan-gerakan shalat lainnya yang pasti memiliki segudang keutamaan, termasuk keutamaan wudhu. Semua ini memperlihatkan bahwa shalat adalah anugerah terindah dari Allah bagi hamba beriman. Wallaahu alam.
Fadhilah Sholat Dhuha
Didalam Surah Adh-Dhuha Allah swt bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam: “Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. 93:1-2). Pernahkah terlintas dalam benak kita mengapa Allah swt sampai bersumpah pada kedua waktu itu?. Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa kedua waktu itu adalah waktu yang utama paling dalam setiap harinya.
Pada waktu itulah Allah swt sangat memperhatikan hambaNya yang paling getol mendekatkan diri kepadaNya. Ditengah malam yang sunyi, dimana orang-orang sedang tidur nyenyak tetapi hamba Allah yang pintar mengambil kesempatan disa’at itu dengan bermujahadah melawan kantuk dan dinginnya malam dan air wudhu’, bangun untuk menghadap Khaliqnya, tidak lain hanya untuk mendekatkan diri kepadanya.
Demikian juga dengan waktu dhuha, dimana orang-orang sibuk dengan kehidupan duniawinya dan mereka yang tahu pasti akan meninggalkannya sebentar untuk
kembali mengingat Allah swt, sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Zaid bin Arqam ra ketika beliau melihat orang-orang yang sedang melaksanakan shalat dhuha: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat itu dilain sa’at ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim).
Lantas bagaimana tidak senang Allah dengan seorang hamba yang seperti ini, sebagaimana janjiNya: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah
dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5:35). Diakhir ayat ini terlihat Allah menyatakan kata “beruntung” bagi hambanya yang suka
mendekatkan diri kepadanya. Nach.. kalau bicara tentang beruntung tentu ini adalah rejeki bagi kita. Dan satu hal yang perlu kita ingat bahwa rejeki itu bukan hanya bentuknya materi atau uang belaka. Tetapi lebih dalam dari itu, segala sesuatu yang diberikan kepada kita yang berdampak kebaikan kepada kehidupan kita didunia dan diakhirat adalah rejeki. Dan puncak dari segala rejeki itu adalah kedekatan kepada Allah swt dan tentu kalau berbicara ganjaran yaitu kenikmatan puncak yang paling akhir adalah syurga. Oleh karena itu para ulama mengajarkan kita untuk berdo’a tentang rejeki ketika selesai shalat dhuha. Jadi salah satu fadilah (keutamaan) dari shalat dhuha itu adalah sarana jalan untuk memohon limpahan rejeki dari Allah swt.
Disamping itu shalat dhuha ini juga dapat mengantikan ketergadaian setiap anggota tubuh kita pada Allah, dimana kita wajib membayarnya sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).
Tetapi yang lebih dalam dari itu lagi adalah shalat dhuha ini adalah salah amalan yang disukai Rasulullah saw beserta para sahabatnya (sunnah), sebagaimana anjuran beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah ra:
“Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at dhuha dan witir sebelum tidur” (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).
Kalaulah tidak khawatir jika ummatnya menganggap shalat dhuha ini wajib hukumnya maka Rasulullah saw akan tidak akan pernah meninggalkannya. Para orang alim, awliya dan ulama sangatlah menjaga shalat dhuhanya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafei’: Tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk
tidak melakukan shalat dhuha”. Hal ini sudah jelas dikarenakan oleh seorang mukmin sangat apik dan getol untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya”.
Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai seorang muslim yang mempunyai tujuan hidup untuk mendapatkan ridhoNya meninggalkan shalat dhuha karena kesibukan duniawi kita kecuali karena kelalaian dan kebodohan kita sendiri.
Pada waktu itulah Allah swt sangat memperhatikan hambaNya yang paling getol mendekatkan diri kepadaNya. Ditengah malam yang sunyi, dimana orang-orang sedang tidur nyenyak tetapi hamba Allah yang pintar mengambil kesempatan disa’at itu dengan bermujahadah melawan kantuk dan dinginnya malam dan air wudhu’, bangun untuk menghadap Khaliqnya, tidak lain hanya untuk mendekatkan diri kepadanya.
Demikian juga dengan waktu dhuha, dimana orang-orang sibuk dengan kehidupan duniawinya dan mereka yang tahu pasti akan meninggalkannya sebentar untuk
kembali mengingat Allah swt, sebagaimana yang dikatakan oleh sahabat Zaid bin Arqam ra ketika beliau melihat orang-orang yang sedang melaksanakan shalat dhuha: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat itu dilain sa’at ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim).
Lantas bagaimana tidak senang Allah dengan seorang hamba yang seperti ini, sebagaimana janjiNya: “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah
dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 5:35). Diakhir ayat ini terlihat Allah menyatakan kata “beruntung” bagi hambanya yang suka
mendekatkan diri kepadanya. Nach.. kalau bicara tentang beruntung tentu ini adalah rejeki bagi kita. Dan satu hal yang perlu kita ingat bahwa rejeki itu bukan hanya bentuknya materi atau uang belaka. Tetapi lebih dalam dari itu, segala sesuatu yang diberikan kepada kita yang berdampak kebaikan kepada kehidupan kita didunia dan diakhirat adalah rejeki. Dan puncak dari segala rejeki itu adalah kedekatan kepada Allah swt dan tentu kalau berbicara ganjaran yaitu kenikmatan puncak yang paling akhir adalah syurga. Oleh karena itu para ulama mengajarkan kita untuk berdo’a tentang rejeki ketika selesai shalat dhuha. Jadi salah satu fadilah (keutamaan) dari shalat dhuha itu adalah sarana jalan untuk memohon limpahan rejeki dari Allah swt.
Disamping itu shalat dhuha ini juga dapat mengantikan ketergadaian setiap anggota tubuh kita pada Allah, dimana kita wajib membayarnya sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).
Tetapi yang lebih dalam dari itu lagi adalah shalat dhuha ini adalah salah amalan yang disukai Rasulullah saw beserta para sahabatnya (sunnah), sebagaimana anjuran beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah ra:
“Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at dhuha dan witir sebelum tidur” (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).
Kalaulah tidak khawatir jika ummatnya menganggap shalat dhuha ini wajib hukumnya maka Rasulullah saw akan tidak akan pernah meninggalkannya. Para orang alim, awliya dan ulama sangatlah menjaga shalat dhuhanya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafei’: Tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk
tidak melakukan shalat dhuha”. Hal ini sudah jelas dikarenakan oleh seorang mukmin sangat apik dan getol untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya”.
Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita sebagai seorang muslim yang mempunyai tujuan hidup untuk mendapatkan ridhoNya meninggalkan shalat dhuha karena kesibukan duniawi kita kecuali karena kelalaian dan kebodohan kita sendiri.
Rahasia di balik sholat tahajjud
pada saat seseorang menggelar sajadah untuk menunaikan shalat tahajud, ia berada dalam kondisi layaknya orang yang melakukan meditasi dan relaksasi. jika kita pernah mendengar lirik lagu tombo ati yang didendangkan budayawan kondang emha ainun nadjib bersama kelompok musik kiai kanjeng, tahajud disebut sebagai salah satu pengobat hati. sebab shalat sunah yang ditunaikan di keheningan malam itu, mengantarkan orang yang menunaikannya menjadi lebih dekat dengan allah. hati yang dekat dengan tuhannya adalah hati yang damai.
orang yang rindu tahajud adalah orang yang mempunyai kadar keikhlasan lebih. ia rela untuk menghentikan kelelapan tidurnya dan bersimpuh pada sang khalik. alquran memuji mereka dengan menyebutnya sebagai orang-orang yang menjauhkan lambungnya dari tempat peraduan.
tahajud diketahui sebagai ibadah yang ditunaikan pada malam hari, saat setiap orang mengistirahatkan tubuhnya dari kelelahan aktivitas di siang hari. banyak kalangan menyatakan bahwa idealnya masa tidur di malam hari adalah enam hingga delapan jam. tidur di malam hari akan memberikan energi baru bagi seseorang untuk melakukan aktivitasnya di pagi hingga siang hari.
namun kemudian muncul sebuah pendapat lain dari seorang ilmuwan bernama ray meddis. ia menyatakan bahwa masa tidur yang sempurna hanyalah tiga hingga empat jam setiap harinya. seseorang akan mengalami deep slep sekitar tiga hingga empat jam saja. tentu seorang muslim mampu memanfaatkan sisa masa tidur itu untuk memadu cinta dengan tuhannya, melalui shalat tahajud.
“bangunlah untuk shalat di malam hari kecuali sedikit daripadanya. yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah alquran dengan perlahan-lahan.” (al-muzammil [73]: 2-4).
seorang ilmuwan muslim asal mesir, fadhlalla haeri, menyatakan bahwa ayat tersebut memberikan panduan bagi muslim untuk mencapai keseimbangan. di sisa masa istirahatnya, tiga jam masa efektif tidur malam, maka ia pun semestinya bangun untuk menjalankan aktivitas yang bermanfaat. bangun di waktu malam adalah salah satu aktivitas yang memberikan manfaat.
ia menambahkan, pada saat itu energi did lam tubuh seseorang berada dalam kondisi rndah. selain itu, medan refleksi juga begitu bersih. dalam tradisi india, kondisi seperti itu disebut sebagai tahap pembentukan kesadaran yang terjadi pada titik energi ketujuh atau cakra mahkota. dampaknya, akan meningkatkan intuisi seseorang dan kesadaran diri untuk mampu mengendalikan emosi negatif.
menurut haeri, pada saat seseorang menggelar sajadah untuk menunaikan shalat tahajud, ia berada dalam kondisi layaknya orang melakukan meditasi dan relaksasi atas kelenjar pineal. ini akan menspiritualkan intelektual sesorang disertai dengan kemampuan personal untuk selalu mendekatkan diri kepada allah serta menjalin hubungan yang harmonis dengan sesamanya.
tak hanya itu, pada saat matahari terbenam, kelenjar pineal mulai bekerja dan memproduksi hormon melatonin dalam jumlah besar dan mencapai puncaknya pada pukul 02.00 hingga 03.00 dini hari. hormon inilah yang kemudian menghasilkan turunan asam amino trytophan dalam jumlah besar pula.
tahukah anda? tahajud menjadi sarana untuk mempertahankan melatonin dalam jumlah yang stabil.
hormon melatonin akan membentuk sistem kekebalan dalam tubuh dan membatasi gerak pemicu tumor seperti estrogen. haeri mengungkapkan bahwa pada masa kanak-kanak melatonin yang ada di dalam tubuh berjumlah 120 picogram. namun jumlah tersebut akan semakin menurun pada usia 20 30 tahun. selain secara alamiah, pengurangan jumlah melatonin di dalam tubuh juga diakibatkan adanya pengaruh eksternal, seperti: tidur larut, medan elektromagnetik, dan polutan kimia misalnya pestisida, yang pada akhirnya menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi dan sakit kepala. pada titik tertentu bahkan menyebabkan turunnya sistem kekebalan tubuh.
kafein yang terkandung di dalam kopi, teh hitam, dan soda tertentu juga akan menyebabkan kemampuan antioksidan melatonin berkurang. keadaan ini akan membahayakan sel-sel tubuh saat seseorang tengah terjaga. dengan demikian, kata haeri, yang harus menjadi perhatian adalah bukan kuantitas tidur seseorang untuk memberikan kebugaran pada tubuh, tetapi justru kualitas tidur. tiga jam adalah waktu yang cukup untuk itu.
tahajud tidak hanya memberikan pengaruh pada posisi melatonin. gerakan ibadah di sepertiga malam terakhir ini juga memberikan pengaruh tertentu pada tubuh. setidaknya, pada saat berdiri tegak dan mengangkat takbir secara tidak langsung akan membuat rongga toraks dalam paru-paru membesar. ini akan menyebabkan banyak oksigen yang masuk ke dalamnya. ada kesegaran yang dirasakan ketika seseorang dapat menghirup udara segar ke dalam paru-parunya di keheningan malam itu. pada saat sujud, seluruh berat dan daya badan dipindahkan sepenuhnya pada otot tangan, kaki, dada, perut, leher, dan jari kaki. proses ini dilakukan berulang-ulang sesuai jumlahrakaat shalat tahajud yang kita lakukan.
setelah oksigen masuk ke dalam paru-paru, oksigen diedarkan ke seluruh tubuh dengan lancar karena adanya pergerakan otot selama ruku’ dan sujud. selain itu, dalam shalat seseorang juga melakukan gerakan duduk di antara dua sujud dan tahiyat yang menyebabkan adanya gerakan tumit, pangkal paha, jari tangan, jari kaki, dan lainnya. tentu peredaran oksigen akan menjadi lancar
orang yang rindu tahajud adalah orang yang mempunyai kadar keikhlasan lebih. ia rela untuk menghentikan kelelapan tidurnya dan bersimpuh pada sang khalik. alquran memuji mereka dengan menyebutnya sebagai orang-orang yang menjauhkan lambungnya dari tempat peraduan.
tahajud diketahui sebagai ibadah yang ditunaikan pada malam hari, saat setiap orang mengistirahatkan tubuhnya dari kelelahan aktivitas di siang hari. banyak kalangan menyatakan bahwa idealnya masa tidur di malam hari adalah enam hingga delapan jam. tidur di malam hari akan memberikan energi baru bagi seseorang untuk melakukan aktivitasnya di pagi hingga siang hari.
namun kemudian muncul sebuah pendapat lain dari seorang ilmuwan bernama ray meddis. ia menyatakan bahwa masa tidur yang sempurna hanyalah tiga hingga empat jam setiap harinya. seseorang akan mengalami deep slep sekitar tiga hingga empat jam saja. tentu seorang muslim mampu memanfaatkan sisa masa tidur itu untuk memadu cinta dengan tuhannya, melalui shalat tahajud.
“bangunlah untuk shalat di malam hari kecuali sedikit daripadanya. yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah alquran dengan perlahan-lahan.” (al-muzammil [73]: 2-4).
seorang ilmuwan muslim asal mesir, fadhlalla haeri, menyatakan bahwa ayat tersebut memberikan panduan bagi muslim untuk mencapai keseimbangan. di sisa masa istirahatnya, tiga jam masa efektif tidur malam, maka ia pun semestinya bangun untuk menjalankan aktivitas yang bermanfaat. bangun di waktu malam adalah salah satu aktivitas yang memberikan manfaat.
ia menambahkan, pada saat itu energi did lam tubuh seseorang berada dalam kondisi rndah. selain itu, medan refleksi juga begitu bersih. dalam tradisi india, kondisi seperti itu disebut sebagai tahap pembentukan kesadaran yang terjadi pada titik energi ketujuh atau cakra mahkota. dampaknya, akan meningkatkan intuisi seseorang dan kesadaran diri untuk mampu mengendalikan emosi negatif.
menurut haeri, pada saat seseorang menggelar sajadah untuk menunaikan shalat tahajud, ia berada dalam kondisi layaknya orang melakukan meditasi dan relaksasi atas kelenjar pineal. ini akan menspiritualkan intelektual sesorang disertai dengan kemampuan personal untuk selalu mendekatkan diri kepada allah serta menjalin hubungan yang harmonis dengan sesamanya.
tak hanya itu, pada saat matahari terbenam, kelenjar pineal mulai bekerja dan memproduksi hormon melatonin dalam jumlah besar dan mencapai puncaknya pada pukul 02.00 hingga 03.00 dini hari. hormon inilah yang kemudian menghasilkan turunan asam amino trytophan dalam jumlah besar pula.
tahukah anda? tahajud menjadi sarana untuk mempertahankan melatonin dalam jumlah yang stabil.
hormon melatonin akan membentuk sistem kekebalan dalam tubuh dan membatasi gerak pemicu tumor seperti estrogen. haeri mengungkapkan bahwa pada masa kanak-kanak melatonin yang ada di dalam tubuh berjumlah 120 picogram. namun jumlah tersebut akan semakin menurun pada usia 20 30 tahun. selain secara alamiah, pengurangan jumlah melatonin di dalam tubuh juga diakibatkan adanya pengaruh eksternal, seperti: tidur larut, medan elektromagnetik, dan polutan kimia misalnya pestisida, yang pada akhirnya menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi dan sakit kepala. pada titik tertentu bahkan menyebabkan turunnya sistem kekebalan tubuh.
kafein yang terkandung di dalam kopi, teh hitam, dan soda tertentu juga akan menyebabkan kemampuan antioksidan melatonin berkurang. keadaan ini akan membahayakan sel-sel tubuh saat seseorang tengah terjaga. dengan demikian, kata haeri, yang harus menjadi perhatian adalah bukan kuantitas tidur seseorang untuk memberikan kebugaran pada tubuh, tetapi justru kualitas tidur. tiga jam adalah waktu yang cukup untuk itu.
tahajud tidak hanya memberikan pengaruh pada posisi melatonin. gerakan ibadah di sepertiga malam terakhir ini juga memberikan pengaruh tertentu pada tubuh. setidaknya, pada saat berdiri tegak dan mengangkat takbir secara tidak langsung akan membuat rongga toraks dalam paru-paru membesar. ini akan menyebabkan banyak oksigen yang masuk ke dalamnya. ada kesegaran yang dirasakan ketika seseorang dapat menghirup udara segar ke dalam paru-parunya di keheningan malam itu. pada saat sujud, seluruh berat dan daya badan dipindahkan sepenuhnya pada otot tangan, kaki, dada, perut, leher, dan jari kaki. proses ini dilakukan berulang-ulang sesuai jumlahrakaat shalat tahajud yang kita lakukan.
setelah oksigen masuk ke dalam paru-paru, oksigen diedarkan ke seluruh tubuh dengan lancar karena adanya pergerakan otot selama ruku’ dan sujud. selain itu, dalam shalat seseorang juga melakukan gerakan duduk di antara dua sujud dan tahiyat yang menyebabkan adanya gerakan tumit, pangkal paha, jari tangan, jari kaki, dan lainnya. tentu peredaran oksigen akan menjadi lancar
Rabu, 06 Februari 2008
Di manakah mukamu?
Di manakah mukamu?
Itulah pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada orang-orang yang selalu cari muka kepada manusia.
Aku kesal banget dengan orang-orang yang suka mencari muka. Aku jadi teringat ada salah satu mahfuzot, " Innal fataa man yaquulu haa anaadzaa, wa laisal fataa man yaquulu kaana abi", yang artinya "Sesungguhnya seorang pemuda (yang berkualitas) adalah yang berkata inilah (sumbangsih, prestasi, kerja, kreasi, dll) saya, dan bukanlah seorang pemuda (yang berkualitas) yang mengatakan inilah bapak saya (bos saya,kenalan saya, dll)
Jika seseorang (pemuda) bersandar kepada seseorang (manusia),
maka sesungguhnya saya (pemuda) bersandar kepada adab saya (akhlak saya)
Sesungguhnya seorang pemuda (yang berkualitas) adalah yang berkata inilah saya,
dan bukanlah seorang pemuda (yang berkualitas) adalah yang mengatakan inilah bapak saya
Kepada siapakah sebenarnya kita harus bersandar? Sebenarnya kita harus bersandar hanya kepada Allah SWT, hanya Allah SWT semata tanpa ada yang lain.
Qul huwa ALLAHu ahad
Allahus Shomad
Lam Yalid wa lam Yuulad
Wa lam yakun laHU kufuwan ahad
Katakanlah bahwasanya Allah itu satu
Allah lah tempat bersandar (bergantung)
Tidak melahirkan dan tidak dilahirkan
dan tidak ada satu sekutu pun bagiNya
Sebenarnya Allah telah menjelaskan bagaimana kita harus menjalankan hidup kita ini, tapi mengapa banyak orang yang melanggarnya.
Orang yang bersandar kepada orang lain, dan mengabaikan Allah, sampai-sampai dia tidak pernah menunaikan kewajibannya kepada Allah, berarti dia tidak mempunyai kualitas, dan Allah nanti akan mempermalukan dirinya.
Maka berbahagialah orang yang selalu bersandar kepada Allah, segalanya dikembalikan kepada Allah, dan dia selalu berbuat yang terbaik terhadap urusannya kepada manusia dan semua makhluk Allah. Dan dipasrahkan semua hasilnya kepada Allah SWT semata, dengan penuh ketawakkalan. Pasti Allah akan senang dengan pemuda ini, dan Allah akan mencintai, menyayangi dan melindungi pemuda ini.
Semoga kita termasuk pemuda yang berbahagia ini. Amin
Itulah pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada orang-orang yang selalu cari muka kepada manusia.
Aku kesal banget dengan orang-orang yang suka mencari muka. Aku jadi teringat ada salah satu mahfuzot, " Innal fataa man yaquulu haa anaadzaa, wa laisal fataa man yaquulu kaana abi", yang artinya "Sesungguhnya seorang pemuda (yang berkualitas) adalah yang berkata inilah (sumbangsih, prestasi, kerja, kreasi, dll) saya, dan bukanlah seorang pemuda (yang berkualitas) yang mengatakan inilah bapak saya (bos saya,kenalan saya, dll)
Jika seseorang (pemuda) bersandar kepada seseorang (manusia),
maka sesungguhnya saya (pemuda) bersandar kepada adab saya (akhlak saya)
Sesungguhnya seorang pemuda (yang berkualitas) adalah yang berkata inilah saya,
dan bukanlah seorang pemuda (yang berkualitas) adalah yang mengatakan inilah bapak saya
Kepada siapakah sebenarnya kita harus bersandar? Sebenarnya kita harus bersandar hanya kepada Allah SWT, hanya Allah SWT semata tanpa ada yang lain.
Qul huwa ALLAHu ahad
Allahus Shomad
Lam Yalid wa lam Yuulad
Wa lam yakun laHU kufuwan ahad
Katakanlah bahwasanya Allah itu satu
Allah lah tempat bersandar (bergantung)
Tidak melahirkan dan tidak dilahirkan
dan tidak ada satu sekutu pun bagiNya
Sebenarnya Allah telah menjelaskan bagaimana kita harus menjalankan hidup kita ini, tapi mengapa banyak orang yang melanggarnya.
Orang yang bersandar kepada orang lain, dan mengabaikan Allah, sampai-sampai dia tidak pernah menunaikan kewajibannya kepada Allah, berarti dia tidak mempunyai kualitas, dan Allah nanti akan mempermalukan dirinya.
Maka berbahagialah orang yang selalu bersandar kepada Allah, segalanya dikembalikan kepada Allah, dan dia selalu berbuat yang terbaik terhadap urusannya kepada manusia dan semua makhluk Allah. Dan dipasrahkan semua hasilnya kepada Allah SWT semata, dengan penuh ketawakkalan. Pasti Allah akan senang dengan pemuda ini, dan Allah akan mencintai, menyayangi dan melindungi pemuda ini.
Semoga kita termasuk pemuda yang berbahagia ini. Amin
Antara Adat, Budaya dan Agama
Pagi tadi di atas KRL, dalam perjalanan menuju kantor dengan dinginnya udara pagi di Bogor yang menusuk tulang sumsum hingga "gemeretek". Kulangkahkan kakiku menuju kereta yang tampak di depanku. "Jlak" alhamdulillah telah sampai kaki dan seluruh badanku di atas kereta, yang telah disesaki penumpang. Kugoyangkan badanku, kugerakkan tubuhku agar bisa masuk ke tengah gerbong demi keamanan, karena perjalananku masih jauh hingga Stasiun Sudirman. Karena apabila aku berdiri di pinggir pintu, wassalam , aku akan ditabrak oleh jejalan penumpang yang berniat memasuki kereta sepertiku ini. Maklumlah kereta ekonomi.
Tak beberapa lama, "Lis" ada salah seorang teman yang memanggilku. "Oh Pak Nyoto" seraya aku memanggilnya kembali. Kemudian dia beranjak ke depanku untuk meletakkan tasnya di rak yang tersedia di atas tempat duduk penumpang. Penuh dan berat sekali tasnya. "Berat sekali Pak tasnya" tanyaku pada Pak Nyoto. "Maklum lah Lis besok kan libur panjang cuti bersama, jadi nanti aku mau pulang kampung" jawabnya. Langsung teringat pikiranku, memang benar mulai besok kan libur panjang, imlek di hari Kamis, maka Jum'atnya dijadikan cuti bersama. Lumayanlah untuk pulang kampung, pikirku.
"Pulang kampungnya kemana Pak ?", tanyaku. "Madiun", jawabnya. "Madiunnya di mana Pak?, aku juga lama tinggal di Ponorogo" tanyaku kembali. "Di daerah "ini" dekat "ini"", jawabnya seraya menjelaskan. Aku pun hanya mengangguk-angguk saja, dan meng"eheh" saja, karena aku memang lupa dengan daerah-daerah di sekitar Madiun, maklumlah aku sudah beberapa tahun ini tidak pernah menginjakkan kakiku kembali di tanah Madiun.
"Kamu berapa lama tinggal di Ponorogo?" tanyanya kepadaku. "Empat tahun Pak, aku sekolah di sana" jawabku. "Di Gontor yah?" tanyanya kembali. "Ya Pak" jawabku. Mungkin karena kemasyhuran sekolahku, makanya dia langsung menebak di mana aku mengenyam pendidikan di Ponorogo. Aku bangga menjadi santri di Gontor dan lulus. Terima kasih Gontorku. Terima kasih Ibuku.
"Lis" tegurnya yang mengingatkanku akan pembicaraan kami tadi. "Lis, waktu di Ponorogo kamu pernah ke Ngebel gak?" tanyanya. "Ya Pak pernah. Emangnya kenapa Pak?" tanyaku kembali. "Aku kalau pulang kampung, selalu main ke Ngebel" jelasnya. "Ya memang danau Ngebel lumayan bagus yah Pak, tapi sayangnya kurang diberdayakan oleh pemda di sana yah Pak? Padahal kan bagus untuk dijadikan tempat wisata" lanjutku. "Ya memang, tapi di sana kan ada mitos, perahu yang dijalankan di danau Ngebel selalu terbalik, selalu memakan korban dan di sana sering sekali diadakan larung saji setiap peringatan satu Syuro'" jelasnya kembali. "Mungkin karena mitos itu, makanya pemda setempat tidak memberdayakan danau Ngebel itu" jelasnya melanjutkan.
Aku jadi teringat akan apa yang telah kupelajari di Gontor. Bahwasanya kita harus memurnikan ajaran Islam, jangan dicampuradukkan antara agama, adat dan budaya. Itu sama saja dengan bid'ah. Tetapi dalam hal kasus Ngebel ini adalah bid'ah dolaalah, bid'ah yang sesat. Bid'ah seperti inilah yang harus dihilangkan. Apalagi ini bisa menjurus kepada berbuat syirik kepada Allah, dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah. Semoga aku bisa menghilangkan bid'ah-bid'ah seperti ini yang telah mengakar dalam adat, budaya masyarakat Indonesia, bantulah kami Yaa Allah untuk memurnikan ajaranmu.
"Lis, turun di mana?" tegur Pak Nyoto, yang menyadarkanku bahwasanya kereta sudah hampir memasuki stasiun Manggarai. Ternyata di luar sedang turun hujan, alhamdulillah aku setiap hari sudah membawa payung. Mungkin karena aku tinggal di sekitar Bogor, kota hujan, makanya aku sedia payung sebelum hujan, kayak peribahasa aja yah.
"Pak, aku siap-siap mau turun di stasiun Sudirman dulu yah Pak" ucapku sambil menurunkan tasku yang kuletakkan di atas rak. "Hati-hati di jalan yah Pak, dan hati-hati juga saat pulang kampung yah Pak, dan terima kasih banyak yah Pak", sapaku lanjut. "Terima kasih yah Lis" jawabnya.
Tak beberapa lama kemudian, kereta pun tiba di stasiun Sudirman. "Jlak" alhamdulillah aku sudah sampai di stasiun Sudirman, lalu aku melangkahkan kakiku menaiki anak tangga, untuk melanjutkan perjalananku menuju kantor.
Yaa Allah ridhoilah hambaMu ini dalam segala hal Yaa Allah, karena hanya ridhoMu yang hamba harapkan selalu. Amin
Tak beberapa lama, "Lis" ada salah seorang teman yang memanggilku. "Oh Pak Nyoto" seraya aku memanggilnya kembali. Kemudian dia beranjak ke depanku untuk meletakkan tasnya di rak yang tersedia di atas tempat duduk penumpang. Penuh dan berat sekali tasnya. "Berat sekali Pak tasnya" tanyaku pada Pak Nyoto. "Maklum lah Lis besok kan libur panjang cuti bersama, jadi nanti aku mau pulang kampung" jawabnya. Langsung teringat pikiranku, memang benar mulai besok kan libur panjang, imlek di hari Kamis, maka Jum'atnya dijadikan cuti bersama. Lumayanlah untuk pulang kampung, pikirku.
"Pulang kampungnya kemana Pak ?", tanyaku. "Madiun", jawabnya. "Madiunnya di mana Pak?, aku juga lama tinggal di Ponorogo" tanyaku kembali. "Di daerah "ini" dekat "ini"", jawabnya seraya menjelaskan. Aku pun hanya mengangguk-angguk saja, dan meng"eheh" saja, karena aku memang lupa dengan daerah-daerah di sekitar Madiun, maklumlah aku sudah beberapa tahun ini tidak pernah menginjakkan kakiku kembali di tanah Madiun.
"Kamu berapa lama tinggal di Ponorogo?" tanyanya kepadaku. "Empat tahun Pak, aku sekolah di sana" jawabku. "Di Gontor yah?" tanyanya kembali. "Ya Pak" jawabku. Mungkin karena kemasyhuran sekolahku, makanya dia langsung menebak di mana aku mengenyam pendidikan di Ponorogo. Aku bangga menjadi santri di Gontor dan lulus. Terima kasih Gontorku. Terima kasih Ibuku.
"Lis" tegurnya yang mengingatkanku akan pembicaraan kami tadi. "Lis, waktu di Ponorogo kamu pernah ke Ngebel gak?" tanyanya. "Ya Pak pernah. Emangnya kenapa Pak?" tanyaku kembali. "Aku kalau pulang kampung, selalu main ke Ngebel" jelasnya. "Ya memang danau Ngebel lumayan bagus yah Pak, tapi sayangnya kurang diberdayakan oleh pemda di sana yah Pak? Padahal kan bagus untuk dijadikan tempat wisata" lanjutku. "Ya memang, tapi di sana kan ada mitos, perahu yang dijalankan di danau Ngebel selalu terbalik, selalu memakan korban dan di sana sering sekali diadakan larung saji setiap peringatan satu Syuro'" jelasnya kembali. "Mungkin karena mitos itu, makanya pemda setempat tidak memberdayakan danau Ngebel itu" jelasnya melanjutkan.
Aku jadi teringat akan apa yang telah kupelajari di Gontor. Bahwasanya kita harus memurnikan ajaran Islam, jangan dicampuradukkan antara agama, adat dan budaya. Itu sama saja dengan bid'ah. Tetapi dalam hal kasus Ngebel ini adalah bid'ah dolaalah, bid'ah yang sesat. Bid'ah seperti inilah yang harus dihilangkan. Apalagi ini bisa menjurus kepada berbuat syirik kepada Allah, dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah. Semoga aku bisa menghilangkan bid'ah-bid'ah seperti ini yang telah mengakar dalam adat, budaya masyarakat Indonesia, bantulah kami Yaa Allah untuk memurnikan ajaranmu.
"Lis, turun di mana?" tegur Pak Nyoto, yang menyadarkanku bahwasanya kereta sudah hampir memasuki stasiun Manggarai. Ternyata di luar sedang turun hujan, alhamdulillah aku setiap hari sudah membawa payung. Mungkin karena aku tinggal di sekitar Bogor, kota hujan, makanya aku sedia payung sebelum hujan, kayak peribahasa aja yah.
"Pak, aku siap-siap mau turun di stasiun Sudirman dulu yah Pak" ucapku sambil menurunkan tasku yang kuletakkan di atas rak. "Hati-hati di jalan yah Pak, dan hati-hati juga saat pulang kampung yah Pak, dan terima kasih banyak yah Pak", sapaku lanjut. "Terima kasih yah Lis" jawabnya.
Tak beberapa lama kemudian, kereta pun tiba di stasiun Sudirman. "Jlak" alhamdulillah aku sudah sampai di stasiun Sudirman, lalu aku melangkahkan kakiku menaiki anak tangga, untuk melanjutkan perjalananku menuju kantor.
Yaa Allah ridhoilah hambaMu ini dalam segala hal Yaa Allah, karena hanya ridhoMu yang hamba harapkan selalu. Amin
Senin, 04 Februari 2008
Murka Alamku !!!
Hujan....
Badai....
Angin Puting beliung......
Telah terjadi banyak bencana di bumiku Indonesia.....aku pun tak tahu kenapa ?? mengapa ??
Selalu saja kita menghitamkan kambing, padahal kambing tidak berbuat salah yang berakibat bencana alam di bumi kita. Kenapa kita tidak pernah menghitamkan diri kita sendiri, yang telah banyak menyumbang dalam pengrusakan alam ini....malu yaaah ???....gengsi yaah??? apa takut ???
Lucu kan ??? padahal kita sendiri yang telah berbuat, tetapi kenapa kita selalu mengambil langkah seribu menjauh dari tanggung jawab kita ??? mana rasa kemanusiaan kita ?? kambing saja masih punya rasa kekambingannya, masa sih kita kalah sama kambing ???
Kita ini kholifah.....
Apakah salah kalau alam ini murka kepada kita ?
Alam telah banyak menyaksikan, segala perbuatan kita yang amat sangat berdosa dan menjadi kebanggaan kita. Alam ini hidup, alam ini makhluk Allah juga, alam ini pun selalu bertasbih kepada Allah.
Kita sudah terbalik, lelaki ingin menjadi perempuan, vice versa. Banyak perempuan yang pakaiannya kekurangan bahan, dibilang seksi. Perempuan sudah menghalalkan auratnya untuk dipertontonkan kepada khalayak umum. Maka apakah salah kalau alam ini pun menjadi terbalik, dengan adanya gempa, tsunami dan banyak bencana lainnya. Dan para astronom pun telah meneliti bahwasanya sekarang matahari sudah terbit agak condong ke barat. Ini sudah pertanda kiamat. Apalagi yang ditunggu oleh manusia seperti kita untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya? Apakah kita menunggu malaikat Isrofil meniup sangkakalanya baru kita bertaubat?
Kapan ?
Entahlah, aku pun tak tahu bagaimana nasibku nanti. Aku telah memasrahkan diriku, apa -apa yang ada pada diriku, apa-apa yang atas diriku, aku pasrahkan segalanya kepada Kholiqku, Allah SWT. Aku hanya berbuat saja dan memperuntukkannya hanya kepada Allah semata, aku berharap semoga apa yang kulakukan mendapatkan ridho dari-Nya.
Kita hanya seorang makhluk yang kecil, kenapa kita merasa besar di hadapan-Nya ?
Kita hanya seorang makhluk yang hina, kenapa kita merasa mulia di hadapan-Nya ?
Kita hanya seorang makhluk yang bodoh, kenapa kita merasa pintar di hadapan-Nya ?
Kita hanya seorang makhluk yang lemah, kenapa kita merasa kuat di hadapan-Nya ?
Kita hanya seorang makhluk yang ......, kenapa kita merasa ....... di hadapan-Nya ?
Allah lah Yang Maha Segala
Allah lah tempat kita kembali
Allah lah segala-galanya buat kita
Semoga Allah senantiasa meridhoi dan melindungi kita, amin.
Badai....
Angin Puting beliung......
Telah terjadi banyak bencana di bumiku Indonesia.....aku pun tak tahu kenapa ?? mengapa ??
Selalu saja kita menghitamkan kambing, padahal kambing tidak berbuat salah yang berakibat bencana alam di bumi kita. Kenapa kita tidak pernah menghitamkan diri kita sendiri, yang telah banyak menyumbang dalam pengrusakan alam ini....malu yaaah ???....gengsi yaah??? apa takut ???
Lucu kan ??? padahal kita sendiri yang telah berbuat, tetapi kenapa kita selalu mengambil langkah seribu menjauh dari tanggung jawab kita ??? mana rasa kemanusiaan kita ?? kambing saja masih punya rasa kekambingannya, masa sih kita kalah sama kambing ???
Kita ini kholifah.....
Apakah salah kalau alam ini murka kepada kita ?
Alam telah banyak menyaksikan, segala perbuatan kita yang amat sangat berdosa dan menjadi kebanggaan kita. Alam ini hidup, alam ini makhluk Allah juga, alam ini pun selalu bertasbih kepada Allah.
Kita sudah terbalik, lelaki ingin menjadi perempuan, vice versa. Banyak perempuan yang pakaiannya kekurangan bahan, dibilang seksi. Perempuan sudah menghalalkan auratnya untuk dipertontonkan kepada khalayak umum. Maka apakah salah kalau alam ini pun menjadi terbalik, dengan adanya gempa, tsunami dan banyak bencana lainnya. Dan para astronom pun telah meneliti bahwasanya sekarang matahari sudah terbit agak condong ke barat. Ini sudah pertanda kiamat. Apalagi yang ditunggu oleh manusia seperti kita untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya? Apakah kita menunggu malaikat Isrofil meniup sangkakalanya baru kita bertaubat?
Kapan ?
Entahlah, aku pun tak tahu bagaimana nasibku nanti. Aku telah memasrahkan diriku, apa -apa yang ada pada diriku, apa-apa yang atas diriku, aku pasrahkan segalanya kepada Kholiqku, Allah SWT. Aku hanya berbuat saja dan memperuntukkannya hanya kepada Allah semata, aku berharap semoga apa yang kulakukan mendapatkan ridho dari-Nya.
Kita hanya seorang makhluk yang kecil, kenapa kita merasa besar di hadapan-Nya ?
Kita hanya seorang makhluk yang hina, kenapa kita merasa mulia di hadapan-Nya ?
Kita hanya seorang makhluk yang bodoh, kenapa kita merasa pintar di hadapan-Nya ?
Kita hanya seorang makhluk yang lemah, kenapa kita merasa kuat di hadapan-Nya ?
Kita hanya seorang makhluk yang ......, kenapa kita merasa ....... di hadapan-Nya ?
Allah lah Yang Maha Segala
Allah lah tempat kita kembali
Allah lah segala-galanya buat kita
Semoga Allah senantiasa meridhoi dan melindungi kita, amin.
Langganan:
Postingan (Atom)

